Minggu, 08 Agustus 2010

LUBANG KERINDUAN

 Seperti kota-kota yang lain, ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa, langit kota kecil itu pun selalu menyala. Seperti siang itu, bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar, diiringi sorak-sorai. Bagai tepung terigu ditebah angin, debu mengepul di jalanan. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. Wajah para pemuda itu tampak mengeras, kaku seperti baja. Tangan mereka terkepal. Kata-kata ”revolusi”, ”ganyang nekolim”, ”hidup Nasakom”, dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru.
Detik waktu kian berjalan.  hebusan nafas kian terasa berat saat terrasa dalam kehidupan.perempuan separuh baya.  perempuan itu adalah ibu, dari anak laki laki kecil yang di beri namaTeguh wicaksono perempuan tua itu mempunyai harapan agar kelak anak anaknya  yang di lahirkan  nasipnya tak seperti ayah-nya. kepincangan demi kepincangan tersa semakin jelas di dalam ke hidupan-nya , setelah di tinggal suami nya yang tercinta.
 Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut kuning ke emasan menerpa seisi alam, dan di pagi hari. tampak tubuh laki-laki  kecil bersama seoarang perempuan separuh baya  keluar dari dalam angkutan kota bersama para penumpang lainnya. Kecemasan mengambang di bola matanya. Memasuki kompleks gedung yang tampak kokoh , laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk. Tampak dari atas, tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh.dan  lorong gedung, ia berjalan menuju suatu ruang di dalam jiwanya ada perasa-an setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang, sambil menimang dokumen lusuh.
  Sejak peristiwa berdarah itu berlalu, untuk pertama kali-nya perempuan itu mendatangi tempat itu. Ia datang bersama anak laki-lakinya, dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan.perasaan  rindu akan pradigma kebenaran yang telah lama terpendam.  dari lubang lorong yang amat yang amat gelap yang berada di depanya muncul  kelelawar dari lubang lebar, dan gelap oleh masyarakat sekitar disebut luweng.sesampai-nya di tempat itu permpuan itu pun menaburkan bunga.
"Guh disinilah  jasat bapak mu menigal kan dunia ini"
”Di sinikah Jasat bapak di kubur?”
ujar teguh degan suara pelan tersa menahan gejolak rindu yang amat mendalam.
 Karang Bolong mungkin bagi  ku dan anak anak ku, merupakn satu tempat untuk membagi kerinduan akan sejarah yang berdarah .
 entah salah siapa atau kah mungkin takdir sang pencipta alam
Aku sebenarnya ingin terus terang kepada  anak-anakku.
  Tapi aku takut mereka kaget. Sesungguhnya    waktu  itu ketika agin si pembawa berita bertiup ingin rasanya berteriak atau menagis seakan dada terasa sesak terhipit balutan nafas yang segal
ketika seorang laki laki bertubuh tegap dan gagah berpakaian  loreng mebawa kabar kematian suamiku..dan  aku pun menayakan  mana jasat suamiku.
pemakaman jasat suamiku katanya pemakaman  telah menjadi urusan negara
Dan di kepala ku saat itu  berkecamuk sejuta pertanyan Kenapa mengubur jasat suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas parjo terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara, teman, atau handai tolan menanyakan soal kematiannya?
Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah?
Maka, diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara wajar dan terhormat. ”Makam” itulah yang kemudian mem-bebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. Aku terbebas? Tidak juga. Hingga kini, rasa pedih terus merajamku.
Sesungguhnya meninggal bukan di tahanan. Bukan. Menurut Swang-gani, anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian, suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. ”Bersama tahanan lainnya, suamimu di lempar-kan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. Dari tempatku bersembunyi, aku mendengar jeritan mereka…,” ujarnya dengan gemetar.
Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan?
Waktu itu, partai-partai saling bersaing. Ada PNI, ada Masyumi, ada NU, ada PKI, dan ada PSI.
Dalam zaman yang gemuruh itu, kami hidup menepi. Tinggal di kampung dalam suasana guyub rukun Kami menempati rumah besar, warisan mertua. Sebuah rumah bergaya limasan, dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Di bagian belakang, ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar.
Di pendopo itu, Suami ku menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung, secara cuma-cuma..
Rupanya kegiatan itu menarik perhatian tokoh desa yang menjadi angota partai PKI di kota kami. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar, khas jahitan pasar. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. Dia menjawab ringan, ” Negara kita ini masih berduka dan melarat. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril…. Kan nggak sopan to.”
Suatu ketika,seorang tokoh partai PKI meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. Katanya untuk rapat partainya.Suamiku terdiam  Ia memandangku. Aku pun terdiam.
”Bagaimana, Boleh kan?” Suara itu keluar dari mulut tokoh PKI terdengar sangat berat. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk.
”Terima kasih. Terima kasih. mas dan sekeluarga  sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi….” Tawaberkelakar terdegar dari mulut tokoh PKI
Kami hanya saling memandang.
Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat, tapi juga menjadi pusat kegiatan partai. Ada latihan ketoprak. Ada latihan menari dan menyanyi. Ada pendidikan bagi kader-kader partai. Pendopo kami selalu ramai. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Suamiku telah diambil alih mereka. Samiku pun tidak keberatan.
”Hati-hati dengan tokoh tokoh PKI itu” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya ber-sama Samiku
”Kami kan hanya meminjamkan tempat…. Apa salahnya?” kataku. Wajah bapak-ku tampak masam.
 Beberapa bulan kemudian, lewat RRI, kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. Beberapa jenderal diculik. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. Tidak sampai seminggu, suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami, ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu, dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. Setiap saat itu, bau mayat tercium di mana-mana.
Sehabis isya, mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang.
”Gantung PKI itu
”Habisi keluarganya!
Pokoknya tumpes kelor!
Dengan jiwa yang kutegarkan, aku menemui mereka. Kukatakan bahwa Suamiku bukan anggota PKI.
”Bohong! Dasar Gerwani, kamu!
”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. Aku sendiri tidak paham, kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya, aku gemetaran melihat parang, kelewang, bambu runcing, atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan. Dan ajaib, bentakanku menundukkan wajah mereka. Pak RT mampu menyabarkan mereka. Akhirnya, kerumunan pun bubar.
Esoknya, pada dini hari, kudengar suara derap sepatu  menghajar ubin pendopo. Pintu rumah kami digedor-gedor. Keras. Sangat keras. Dengan gemetar, aku membuka pintu. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan.
Suamiku keluar dari kamar. Dia sangat tenang. Aku memeluknya. Dia mencoba memberikan penjelasan, ”Saya tidak tahu apa-apa…. Sungguh.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya. Tubuh Suamiku menghilang diringkus kegelapan. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya, terakhir kali mendengarkan degup jantungnya. Aku hanya ingat kata-kata terakhir suamiku, ”Jaga kandunganmu.”
Aku pun bergegas membawaAnak anak ku lari keluar. Menembus malam. Menuju rumah Bapak.
 dan Dua tangan ibuku bak  menjelma seperti sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman mara bahaya
Di rumah itu, aku melahirkan teguh Sebulan kemudian, seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan.
Aku tak bisa lagi menangis. Dadaku sesak
 Di Kantor Komnas HAM, pagi hari.
Teguh berjalan menuju ke sebuah ruang, membawa dokumen setebal kecemasan ibunya, sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya.
Ia berharap negara berani untuk punya telinga, hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya, yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’.
Sampai di depan pintu sebuah ruangan, langkahnya tertahan. Ia hendak berbalik, namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk. Dengan tenang, ia menemui seseorang. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya

10 komentar:

  1. Menarik, tapi kok terputus, ada lanjutannya kah?

    BalasHapus
  2. Wah.., merinding aku bacanya. Terus bagaimana cerita kelanjutannya..?

    BalasHapus
  3. ini cerpen atau kisah nyata mas?

    BalasHapus
  4. berkunjung aja nich saya (petani jabon)salam...

    BalasHapus
  5. ketika...nurani telah pergi meninggalkan hati...

    BalasHapus
  6. ketika nurani masih bisa berbicara, itu adalah sesuatu yang harusnya disyukuri...

    BalasHapus
  7. artikelnya bagus
    nice post bro...

    BalasHapus
  8. terimakasih atas infonya

    by - www.agen388.com

    BalasHapus

InnocentYellSmileWinkCryCoolFrownKissLaughingSurprisedSealedEmbarassedMoney mouthTongue outFoot in mouthUndecided